Skip navigation

Sajak-sajak Saut Poltak Tambunan

Mencintaimu Dalam Semua Dan Segala

Aku tidak siapkan sendu di kamar sepetak ini
agar aku dapat termangu mengingatmu
Aku tidak merajut kabut dan kelam sesore tadi
agar di sepanjang sisa malam aku sendu merindumu
Sungguh, masih tak ingin aku berbagi sunyi
Kendati dari celah gerimis di kotaku –
semakin rindu aku pada sayup doamu
Ini sejujurnya.
Aku tidak sengaja membiarkan sepi
menyelusup di temaram kota ini
agar aku dapat bersunyi-sunyi, sendiri
Sebab ketika kugenggam tanganmu di altar  itu,
semuanya telah cukup untukku.
Aku ingin mencintai engkau
dengan tidak menambahkan apa-apa pada rasa cintaku
Karena cinta yang mencukupkan aku akan segalanya
adalah bening yang mengalir tak henti
menyegarkan aku dalam semua dan segala.
Ini sejujurnya.
Rumpun melati di muka pintu kamar pondokan ini
telah lama sekali terlupakan
ketika pagi ini kutemukan telah berbunga
dan menjulurkan harumnya lewat celah jendela
yang tak biasanya kubiarkan terbuka.
kepadaku membisikkan makna yang kutahu pasti:
Masih ingin aku berdiang pada binar matamu.
Hingga sunyiku abadi.

*
Penyair, Sekali Sore Alam Hidup

Sekali sore dalam hidup, Penyair bersila di teras rumahnya:
“Melihatmu berdiri di keangkuhanmu ..!”

Anak:
“Yah, katanya sekolah nggak bayar, kok bayar juga ..!”

Penyair:
“adalah durjana gergasi yang kuyakini
tak selamanya
mampu menelan matahari   …”

Anak:
“Ayah, aku juga harus beli buku sore ini, sebelum toko tutup ..”

Penyair:
“karena kepadamu aku bilang tidak
kau sudah kunyah aku

Anak:
“Lho, kok tidak, Ibu bilang minta ke Ayah …! Tas sekolahku juga sudah sobek …”

Penyair:
“aku memang tersungkur dan luka  ..”

Anak:
Emaaaaaaaakk! Ayah nggak mau…!”

Penyair:
Tetapi dengar kataku : Jangan telan aku
Sebab aku  racun buatmu

Emak:
“Wadduh, masih sore begini sudah kumat!
Nih, makan nih puisimu ! Grupyak!!”

Penyair:
@%$#&%?

TELANJUR AKU MENGAGUMIMU

telanjur malam saat aku sadar kau laut,
aku menyelam sebab padamu  kutemukan kedalaman.

kau adalah sungai
aku arungi engkau sebab padamu  kutemukan arus dan jeram.

berharap engkau telaga
aku bisa bercermin sebab padamu  kutemukan kebeningan.

sudah terlanjur diri ini melangkah,,,,ke dalam,

sudah terlanjur mabuk diri ini karna air cinta yang sudah banyak aku telan…….

wahai sayang……q terlanjur mencintaimu

spt, Mei 2009

Biarkan Aku Bicara

Biarkan saja aku bicara kepada ilalang dan gunung
Bahwa ketika kebeningan hadir menghadang langkahmu
Maka kau palingkan wajahmu buruk kepada gelap
yang tampak bersisa hanyalah kemunafikan
Bahwa karena kepadamu aku bilang tidak,
Maka kau robek punggungku lewat sembunyi tanganmu
aku memang luka, aku memang tersungkur
tetapi aku ingin tidak menjerit
ingin tidak balas bangkit menerjang
kendati aku bisa kenali kau lewat perih lukaku

Bahwasanya aku tidak menyerah
kendati kini terasing di seberang
kendati mimpi-mimpiku pasir kering berserakan
kendati nyanyian ombak Selat Sunda
menjadi tangis dan rindu anak-anakku
serta badai yang berputaran dalam dadaku
biarkan saja aku bicara sepanjang siang dan malam
bahwa atas nama luka masih kusimpan amarahku
di lubuk yang kian hari kian dangkal
kendati masih kuingin percaya,
Sang Kebenaran dan Hidup
akan beri aku kesabaran melebihi tebing pantai
yang sepanjang peradaban dihempas ombak
tak hendak Ia patahkan buluh terkulai
tak hendak Ia padamkan lampu redup
semakin kuyakin
tak seorang ‘kan dibiarkan kehilangan segala
dan aku menunggu perahu keadilan
menjemputku pulang
*
Saut Poltak Tambunan
Bandar lampung November 1996

Archives by Category

Archives by Month

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: