Skip navigation

No Facebook No Cry

Saat semua orang ramai-ramai bikin akun Facebook dan sibuk nambah teman sana sini, terus terang saja saat itu saya mupeng. Kaya apa sih rasanya Facebookan? Saya pengen banget bikin akun FB bukan untuk menambah temen baru, tapi lebih karena saya ingin melacak keberadaan salah satu teman lama saya. Siapa tahu saja, kami bisa dipertemukan lewat Facebok, danbisa menjalin kembali silaturrahim yang pernah terputus.

Tapi apa daya, saat itu di rumah ga ada koneksi internet. Suami saya yang praktisi IT aja suka pusing kalo lagi dikejar dead line kerjaaan, sehingga harus lembur dikantor yang ada fasilitas internetnya. Tapi sampai akhirnya kami bisa konek internet di rumah pun, keinginan saya untuk buka akun FB tetap ga keturutan. Pasalnya, suami tercinta tidak mengijinkan saya Facebookan atau YMan meskipun saya boleh konek internetkapan saja,  setiap hari, selama 24 jam.

Well, akhirnya dengan berat hati dan menelan ludah yang udah terlanjur banyak glek..glek..glek..(hih jijik…lebay!) saya mengalihkan perhatian saya ke game online. Hingga beberapa waktu lamanya saya hanya memanfaatkan internet buat game online atau sesekali browsing resep yang mak nyusss. Maklum, ga begitu pinter masak. Jadi ya harus belajar.

Suatu ketika saya merasa penasaran dengan yang namanya Webblog atau Blog. Akhirnya saya tanya sama Man Google tentang tutorial blog. Setelah baca-baca, saya bikin alamat email, akun Google dan buka situs Blogger. Klik sana, klik sini….yess..jadilah blog pertama saya. Itupun secara sembunyi-sembunyi karena takut bahwa ternyata blogging pun ga boleh juga sama suami.

Cuma tiga posting, saya merasa bosen. Seperti hidup yang ga punya tetangga. Sepi. Akhirnya saya bikin blog lagi, masuk komunitas toko buku online. Punya blog kedua. Setelah sekitar sepuluh posting(yang berhasil publish), kembali saya bosen. Kenapa? Saya seperti ga dapat apapun dari komunitas blogger ini. Yang posting cuma itu-itu aja. Isinya? Jangan tanya….Pokoknya nggak banget. Bagus sih…tapi gimana ya, pokoknya saya ga dapet apa-apa. Belum lagi saat nulis posting saya sering gagal publish karena kesalahan ga tahu siapa. Intinya, setelah capek-capek nulis, tinggal klik publish, eh…bukannya posting saya berhasil diterbitkan, malah saya langsung balik ke halaman login. Kesel kan? Kalo saya ini pengangguran yang kurang kerjaan mungkin ga masalah. Gagal bisa langsung bikin posting lagi. Tapi saya kan motherblogger yang kalo mau posting harus nunggu siang kaya begini, atau malem-malem pas semua kerjaan kelar dan anak udah tidur….Huh.

Akhirnya saya sempat kapok nggak mau lagi bikin blog. Namun dalam perjalanannya, saya dipertemukan dengan Blogdetik yang langsung bikin saya jatuh cinta pada pandangan pertama(sok romantis). Dan ternyata saya ga jatuh cinta pada sosok yang salah. Blogdetik sangat mendukung hasrat menulis saya. Karena membernya banyak dan jago nulis semua jadi saya bisa berguru baik secara langsung maupun tak langsung. Soalnya, kata para penulis terkenal(salah satau yang pernah saya baca artikelnya tentang menulis adalah Hilman Hariwijaya), kalo mau tulisannya bagus musti rajin baca juga kan. Ibarat pindah rumah, saya langsung merasa kerasan karena tetangganya semua baik.

Nah, sejak ketemu Blogdetik saya kian tertantang untuk rajin posting. Berhadiah ga berhadiah yang penting posting. Dan hingga sekarang saya sudah menulis sekitar 28 judul tulisan. Tapi ternyata ngeblog di blogdetik saja saya merasa kurang puas. Suatu hari selesai membalas komen salah seorang pembaca, ternya si pembaca ini ngeblog juga di Kompasiana. Rasa penasaran saya kian bertambah. Seperti apa sih tulisan para kompasianer ini? Wow takjub. Semuanya nice posting dan semuanya ngebahas hal-hal serius. Wah tantangan lagi nich. Kalau di blogdetik saya terbiasa ngeblog dengan suasana santai dan familier, sepertinya ga ada salahnya kalau saya juga belajar menulis dengan lebih serius. Akhirnya di hari berikutnya dengan mengucap Bissmillaahirrohmaanirrohim (ini beneran lho) saya membuat akun di kompasiana dan muncullah tulisan pertama saya Kerja Pertama Di Kampus Fiktif.

Sekarang, saya merasa ga perlu lagi punya akun Facebook. Di kompasiana dan blogdetik, saya bisa dapatkan lebih dari sekedar teman. Bukan teman yang cuma bisa ting chatingan ga jelas ngalor ngidul atau sekedar ngerumpiin teman laen, tapi teman-teman yang memberi masukan dan manfaat untuk saya baik dunia dan InsyaAllah akhirat. Amiin. So..No Facebook No Cry…

p.s : sekedar catatan perjalanan saya mencari tempat berlabuh untuk menuangkan isi hati, tanpa bermaksud membandingkan satu dengan lainnya karena memang tidak sama.

Archives by Category

Archives by Month

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: